Probolinggo. “Kalau busuk seperti ini karena apa, ya? Terus anggur yang bagus itu seperti apa?” tanya Ita, pelajar SMK Pertanian Krucil Probolinggo, akhir pekan lalu. Pertanyaan itu hanya satu dari belasan pertanyaan yang meluncur dari pemuda-pemudi asal Probolinggo tersebut. Kala itu studi lapangan ke Kebun Percobaan Anggur Banjarsari, Probolinggo.
“Kami ingin agar anggur kembali berjaya di Probolinggo. Tidak seperti sekarang, anggur hanya menjadi ikon kota, tetapi keberadaannya tidak sebanyak sebelumnya. Itu sebabnya, anak didik saya sudah diperkenalkan kepada budidaya anggur sejak masih di bangku sekolah,”ujar Muhammad Ilyas, guru SMK Pertanian Krucil, yang juga bekas petani anggur Probolinggo.
Sukandar, Kepala Kebun Percobaan Anggur Banjarsari, mengatakan sangat mengapresiasi upaya sekolah mengenalkan anggur kepada siswanya. “Saya senang dengan kegiatan ini agar jangan hanya saya yang mempertahankan anggur di Probolinggo,” ujarnya.
Namun, tantangan yang kini dihadapi adalah kian seringnya penebangan pohon anggur, menyusul ketidaksanggupan petani menghadapi gagal panen akibat cuaca. Tahun lalu, hujan hampir sepanjang tahun sehingga menghancurkan tanaman anggur.
Data Dinas Pertanian Kota Probolinggo menyebutkan, jumlah tanaman anggur pada Oktober 2011 sebanyak 13.237 pohon. Jumlah tersebut telah berkurang 100 pohon dibandingkan dengan posisi Juli 2011.
“Menanam anggur memang tidak mudah. Anggur itu ibaratnya anak manja. Jadi, merawatnya harus ekstra sabar. Terkena hujan berkelebihan akan langsung rusak dan busuk,” ujar Faisol (43 thn), petani anggur asal Kelurahan Kareng Lor, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo.
Menanam anggur butuh beberapa tahapan, seperti pemupukan, pengairan, dan penjarangan daun agar buahnya lebat. Tanaman ini juga sangat tergantung musim. Faisol mengaku, tahun lalu, dia tidak panen sama sekali akibat hujan terus-menerus. Namun, dia tetap menanam anggur demi kecintaannya pada Kota Probolinggo. “Probolinggo dikenal dengan anggurnya. Kalau tidak ada lagi yang mau menanam anggur, apa Probolinggo masih dikenal orang?” katanya.
Anggur mulai berkembang di Probolinggo pada tahun 1899. Saat itu, Haji Mohammad Ali dari Desa Mangunhardjo pulang dari berhaji dan membawa pulang benih anggur. Tanaman yang awalnya sebagai hiasan halaman itu lalu berkembang pesat menjadi tanaman bernilai ekonomis.
Tahun 1935, di Probolinggo dibentuk badan penolong pengganggur bernama Maatschappelijk Voor Werklozen Bedrijf. Badan ini mengusahakan perkebunan anggur seluas 2 hektar di Kebonsari Wetan dan Sukabumi (seluas 0,25 hektar). Perusahaan ini berkembang baik, bibit – bibit anggur didatangkan dari Australia, Perancis, dan Italia. Anggur yang diproduksi cukup banyak dan berkualitas tinggi sehingga menjadikan salah satu komoditas dikirim ke Belanda.
Kini, banyak jenis anggur hasil persilangan berkembang di Probolinggo, seperti kardinal (probolinggo super), kediri super, prabu bestari, dan jenis asli probolinggo. Namun, usaha itu tak berkembang baik. Dari permintaan 1 ton per panen, hanya bisa terpenuhi 2 kuintal.
Kendalanya, anggur belum dijadikan sebagai tanaman perkebunan. Lebih penting lagi kondisi cuaca yang tidak menentu membuat tanaman pun mudah rusak dan hancur sehingga para petani pun mulai menyerah. Namun, kita berharap Anggur Probolinggo ini bangkit kendali. (DAHLIA IRAWATI)
Sumber:Kompas,Kamis, 24 November 2011
