TRANSLATOR

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
blog-indonesia.com

Kamis, 01 Desember 2011

CEGAH PERAMBAHAN TAMAN NASIONAL DENGAN PALAWIJA

Bengkulu & Kupang.  Warga di sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat berharap pemerintah membantu petani mengembangkan palawija di lahan sawah setelah panen padi setahun sekali. Hal ini diharapkan menjadi jalan keluar agar warga tidak merambah kawasan taman nasional tersebut seusai panen padi.

Hal itu disampaikan Kepala Desa Pungguk, Bedaro, Kecamatan Bingin Kuning, Kabupaten Lebong, Bengkulu, Suardi Tabrani, Rabu (23/11). “Panen padi di Kabupaten Lebong hanya sekali dalam setahun. Setelah panen padi, selama 6-7 bulan sawah tidak digarap,”katanya.
Pada saat itulah, biasanya masyarakat mulai berpikir bagaimana mencari lahan garapan untuk memenuhi ekonomi keluarga. Di tengah sempitnya lahan budidaya di Kabupaten Lebong, kawasan lindung menjadi incaran perambahan untuk membuka kebun kopi, misalnya.

Di kawasan Taman Nasional Keinci Seblat (TNKS), khususnya di Desa Pungguk Bedaro, pekan lalu, dijumpai kebun kopi milik warga yang sudah berbuah. Sejumlah pondok pun berdiri di kebun tersebut.
Karena itu, kata Suardi, akan lebih baik jika setelah panen padi pemerintah daerah memberikan bantuan benih palawija, seperti jagung atau kedelai. Atau, bahkan mungkin bibit ikan agar petani mulai membudidayakan ikan. Langkah itu diharapkan dapat mencegah masyarakat merambah hutan.

Akan tetapi, menurut Direktur Komunitas Konservasi Indonesia Warsi Bengkulu, Nurkholis Sastro, bercocok tanam palawija hanya solusi jangka pendek. Akan lebih baik jika Balai TNKS dan pemerintah daerah menetapkan mekanisme pengelolaan bersama lahan kawasan TNKS yang sudah terlanjur dirambah masyarakat. Perlu mekanisme yang memperhatikan aspek manfaat ekonomi bagi masyarakat dan ekologi.

Sementara itu, terkait tanaman pangan, sebagian petani di Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan dan Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, sudah giat menanam jagung meski cuaca tidak menentu. Sebagaian tanaman langsung menjadi puso begitu mulai berkecambah. Ketua Himpunan Kerukunan Tani dan Nelayan Nusa Tenggara Timur, Mel Adoe di Kupang, Rabu (23/11), mengatakan, cuacaNovember-Desember membuat petani kesulitan menyesuaikan waktu tanam. (ADH/KOR)
Sumber: Kompas, Kamis, 24 November 2011       

HARGA DINAR